MIDUN dengan JAGUNG PERSEDIANNYA



            Lelaki setengah dewasa mengambil rokok di kantong celananya. Diambilnya dan sekarang telah berada diantara sela-sela jari. Diputarnya,dipukul-pukul kan nya supaya padat. Dilihatnya jam tangan di tangan. Waktu sudah meninggi,matahari pun meninggi, tapi pikiran ini masing melayang-layang. Kucoba hidupkan sebatang rokok ini dulu. Dia masih setengah sadar, menikmati hidup dengan dengan setengah sadar.
            “Ayah,mungkin aku sakit”
            “tidak nak,mungkin kau hanya lelah oleh pekerjaan yang lalu”

            Ayahnya hanya berlalu dan bergegas untuk ke sawah. Cuaca sedang tak menentu yang membuat perhitungan panen para petani kacau. Hari ini, bapaknya akan menyemprot ke sawah. Supaya hama nakal tak merusak cara berpikirnya. Alat-alat semprot telah siap dan cairan pestisida pun sudah ready.
            Namun aku masih berkutat dengan pukulan-pukulan terhadap rokok. Kucoba bakar dia tanpa dendam. Membakar dengan damai. Kepulan asap mulai melambung mendekati payon gubuk ini. Bau tanah di jawa sungguh khas dan membuat nyaman. Tembok-tembok dari klaras memberikan celah asap itu menerobos tubuhnya. Adem dan seperti menunggu mati. Pola pikir, ruh, dan raga.
            Aroma dari tahi ayam pun mendoktrin diri untuk bergegas. Atau hidupmu akan menjadi tahi ayam. Burung dara beterbangan di atap gubuk ini. Kuku nya digesek-gesekan pada kulit kelapa yang dianyam ini. Suasana kebun binatang khas pedesaan. Tanpa gajah,macan,singa dan beruang madu. Tak ingin muluk-muluk daripada tak sempat member makan. Ayahnya telah berangkt ke sawah.
            Ia hanya tinggal berdua dengan ayahnya. 2 orang laki-laki yang kesepian. Tanpa wanita, tanpa sentuhan lembut dan kasih sayangnya. Tadinya ku menyuruh ayah untuk menikah lagi, tapi cinta Ayah sungguh kental seumur hidup. Mungkin habibie mencontoh dari ayahku. Habibie dan ainun, Joko dan Siti.
            Hari kini aku ingin membantu ayahku ke sawah,tapi pikirnku sedang kalut. Rokok lintingan dengan ramuan menyan sungguh meredakan elegi hari ini. Masih berandai, andai masih ada ibu. Mungkin aku tak sesepi ini. Sungguh sepi hidup ini. Mungkin keluargaku sudah tak bisa lagi dikaji dengan feminisme. Apakah masih ada patriarki di dalam keluarga ini?
            Loh? Pikiranku kemana-mana gara-gara menyan ini. Memang sungguh mistis benda itu. Sampi-sampai bisa untuk memanggil makhluk dari dunai lain. Papir yang sering aku jilati karna manisnya. Lain akan menyan yang wangi tapi pahit.
            Midun beralih dari tempat tidurnya. Diberi makannya burung-burung dara itu. Jagung persedian masih banyak. Tergantung di samping kandang di dalam wadah cat yang sudah kosong. Dilemparkannya bergilir jagung itu. Burung dara pun bergerombol. Dari atap langsung menukik ke tanah. Jagung disantap dengan ganas. Emas bagi para pemakannya.
            Tumpukan buku midun terlihat bercahaya saat memberi makan dara. Pojok kamar,tertata dengan struktur bertingkat. Seolang memanggil yang punya untuk membaca. Aku sebaiknya mandi dan membaca buku.

Komentar

Postingan Populer