JALUR SELATAN JAWA YANG MEMANJAKAN TAPI MENAMBAH KETERPURUKAN SUATU KAUM

Sungguh sepi kota selatan Pulau Jawa ini. Sudah paling selatan, eh, tata kota dan manusia nya seperti tanpa roh. Kebumen merupakan salah satu kota di Provinsi Jawa Tengah. Letaknya di selatan Pulau Jawa. Namanya tak sekuat Kota Yogyakarta dan Kota Purwokerto. Ya, Kota Kebumen ini terletak di tengahnya. Setiap orang Jakarta, atau Bandung yang ingin berwisata ke Yogyakarta atau ingin ke Bali, pastilah melewati jalanan kota ini kalau mengambil jalur selatan. Kan bisa dua opsi, lewat Pantura atau selatan. Untuk orang yang suka touring atau sekedar jalan- jalan, jalur selatan memang mengasyikan. Jalannya yang asyik dan pemandangannya lebih bagus, daripada lewat Pantura yang cukup gersang dan lempeng hanya lurus saja. Jalur selatan kebumen ini dikenal dengan jalan Deandles. Ya, masih ada kaitannya dengan pembuatan jalan pada zaman Belanda. Nah, sekarang, jalan yang lebih selatan di Kebumen pun telah dibangun, selatannya deandles. Kalau tidak salah, mulai dari Gombong, sampai Purworejo. Jalannya lebar, aspal halus ( entah kalau sudah dipakai, akan kelihatan kualitasnya), tanpa traffic light yang tentu saja sangat mempercepat waktu tempuh. Memang, negatifnya kalau kondisi badan kurang fit, untuk jalan di jalanan yang luas dan tanpa pembatas tengah jalan untuk dua arah itu sangat ngeri, bisa lepas kontrol. So, tetap jaga kondisi kalau bepergian. 

Jalan yang baru dibangun ini lebih dekat dengan laut selatan. Walaupun tidak sedekat sepanjang jalur Anyer Cilegon. Kalau jalur Anyer mah emang Subhanallah sekali, nggak akan bosen kamu melintas jalanan itu, walaupun jalanannya banyak yang rusak ( sekarang). Oke, jalur selatan paling Selatan Jawa ini belum sepenuhnya dibuka, karena masih ada satu jembatan yang belum tersambung. Sudah lama, jembatan itu belum tersambung. Denger- denger dari cerita orang- orang Kebumen sekitar, paku bumi nya selalu bablas, jadi tidak ada mentoknya. Biasanya dimasukan 3 paku / pasak bumi ini pun sudah cukup,tapi ini selalu bablas tak berdasar. Entahlah kalau soal itu, mungkin ada alasan yang lebih rasional hhe.
Ini yang membuat kota Kebumen sepi, dan hanya ramai saat musim mudik. Orang- orang Kebumen lebih banyak yang jadi pekerja di Jakarta dan sekitarnya, dan hanya kembali saat Lebaran. Jadi jika hari biasa, sangatlah sepi. Ini berdampak pada orang- orang yang berjualan. Kurang laku, sepi, dan para penjual pun jika ingin berinovasi pun, tak ada pembeli. Maksud saya tidak sesepi itu, namun untuk berinovasi di Kebumen ini sangatlah susah. Mental orang nya itu pinginnya high class (tidak merata), mengikuti zaman, tapi tetap murah. Jika mahal, ya males amat untuk membeli. Begitulah Kebumen.
Banyak saya mendengar dari teman seperjuangan yang membuka usaha di kebumen. Dia ibaratnya sudah memiliki modal dan bisnis telah berdiri, tinggal mencari cara untuk marketing warungnya supaya ramai pengunjung dan itu sangat sulit sekali. Perputaran uang di Kebumen sangatlah pelan. Pembangunan dari pemerintah pun, duh, entahlah. Ikon tugu kota Kebumen yang menjadi tak jelas seninya dengan penambahan hiasan tralis besi seperti itu,hha. Mahasiswa sastra kalau ingin membuat puisi pun, bingung, di mana sisi yang akan dibuat karena bentuknya saja sudah mempertontokan seperti enggan aku digunakan objek keindahanmu.
Saya rasa, pembuatan jalan Selatan itu bukan solusi untuk Kebumen. Kita pikir bersama, andaikan Jalur Bus dimasukan ke dalam kota, kan kota jadi ramai. Eit, kan nanti jadi macet, terlalu ramai. No, bus satu ekor pun kalau dimasukan ke dalam kota belum tentu jalanan macet. Mobil- mobil plat B saja deh contohnya, misal yang dari Jakarta masuk ke dalam kota, pasti kalau sudah kondisi letih pasti menjadikan alun- alun Kebumen untuk tempat rehat. Keuntungannya apa kalau bus dimasukan ke dalam jalur kota? Kota menjadi ramai tempat peristirahatan para pengunjung dong. Justru malah inovasi lebih dibangun tempat pemberhentian bus di dalam kotanya. Kalau sekarang kan, bus- bus, mobil- mobil , yang dari barat, pasti akan lebih baik memilih lewat selatan daripada masuk ke dalam kota. Ibaratnya memilih istirahat di Kutoarjo, Wates, atau sekalian istirahat di kota Yogya sekalian. Sultan Yogya  pun pintar, melihat dari segi budaya dan ekonomi pun akhirnya kena. Yogya menolak ada tol dan pembangunan hotel yang lama- lama dirasa tidak ramah lingkungan. Misal kalau ada tol, pasti orang pun enggan keluar dari tol untuk istirahat di Yogya. Mungkin sih untuk keluar tol, karena Yogya sudah dikenal dengan kotanya asyik untuk dikunjungi. Tapi misal, tujuannya masih jauh dan stamina masih fit, berkat ada tol pun pasti lebih baik sekalian bablas sampai tempat tujuan. Tanggung juga, kalau harus keluar tol dulu dan setelah melihat Yogya, masuk tol kembali. Dan tol pun, kaum kapitalis lah yang meraup untung nantinya :(
       Begitulah susahnya Kota ini untuk maju dalam hal perputaran uang. Sampai- sampai saya nyeplos “ dah broh, biarin gini aja Kebumen, buat tempat kita pulang dari perantauan dan istirahat kan enak kalo sepi gini, bisa buat bertapa”. Tapi untuk spot- spot wisata keren, sangatlah banyak. Bagian utara Kebumen yang bukit dan gunung serta bagian selatan Kebumen adalah laut- laut yang sangat indah. Siapa yang sudah pernah mampir ke Pantai Menganti Kebumen!!! silahkan mampir ke kota Kebumen ini.

Komentar

Postingan Populer