PERJALANAN 443 KM dengan MOTOR BEBEK



17 Agustus malam lalu,lebih tepatnya sudah masuk hari tangal 18 Agustus saya bersiap untuk sok sokan touring ke Jakarta. Ada sesuatu yang berbeda kali ini. Motor touringnya lagi jebol karburatornya,dan sedang disiapin buat amunisi ke Lampung dan Bali semester ini. Semoga terpenuhi, Amin. Pikiran yang aneh aneh muncul karena saya mencoba memakai motor bebek ke Jakarta nya dan melakukan riding malam hari. Biasanya sih ayik kalau riding malam hari. Tapi ya pengaruh motor dan lain lain saya pun lumayan was-was. Yang begal lah,banyak balap liar lah dan pikiran lain lain banyak menghantui. Ibaratnya kalau dikejar begal ,begalnya naik motor king pasti lah kena saya hha. Saya naik Vega rr,ya walaupun tarikannya masih yahut banget karena pemakaian orang tua,jadi dipakai lari 100 km/jam masih sangat mudah. Berangkat sekitar jam 1 dini hari. Hanya berbekal tas gendong satu dan peralatan bengkel untuk jaga-jaga. Biasanya kalau pakai motor gede kayaknya mbawanya banyak deh,box kanan kiri full dan jok belakang masih ada tas 1 satu lagi hhhha.

                Sebelum melakukan perjalan,saya ngontak temen lama untuk main ke rumah nemenin saya begadang sampai dini hari. Dia mahasiswa AMIKOM Yogyakarta yang sedang puyeng karena kebanyakan libur hhha , jadi saya suruh ke rumah pasti mau hhe. Singkat cerita dia menceritakan ternyata begal di Yogya ini masih marak. Seperti halnya waktu kemaren ke Yogya ,masih ada sweeping polisi sekitar 10 orang ke saya. Ternyata masih sangat marak dan hanya sepi berita karena sudah jarang terekpos media. Semua hal itu tambah membuat was-was saat akan riding ke Jakarta malam itu hhha. Tapi di akhir obrolan, saya sudah memantapkan hati bahwa mati itu milik Allah dan kalaupun ada begal,di jaket saya pun ada obeng dan kunci 19 yang besar. Sekitar jam  23.00 saya pun mulai prepare. Pukul 01.00 dini hari saya pamit dengan keluarga dan teman saya untuk berangkat.
                Kebumen malam itu sangat kondusif suasananya dalam hal apapun terutama cuaca,bulan sangat berpihak kepadaku. Semua diserahkan kepada Yang Diatas akan keselamatan diri saya. Perjalanan dimulai dini hari itu. Sesampai batas kota kebumen jiwa petakilannya pun muncul,sehingga saya lupa kalau menaiki motor bebek. Motor saya betot sampai 90 KM/jam dan selap selip truk tronton mulai terjadi. Lupa diri itu terselamatkan saat saya sampai hutan pinus yang akan memasuki kota Purwokerto. Daerah itu sangat rawan kecelakaan karena kontur jalannya menanjak dengan liku tajam. Jalanannya pun halus sehingga bisa membuat orang lupa diri. Disitu saya mulai sadar dari petakilan saya karena perasaan merinding itu menghinggapi lewat dingin malam. Kanan kiri hanya hutan pinus yang tinggi tinggi dengan beberapa warga yang berharap recehan dari orang yang melewati jalan itu. Pokoknya saat melewati sepanjang jalan itu,merinding itu belum hilang. Kesadaran itu diambil saat akan menikung saat tikungan tajam. Dengan kecepatan 80 km/jam saya belok layaknya memakai motor megapro,dan ban belakang saya sliding sekitar beberapa cm. Dan itu adalah pertawa kali saya membaca istigfar dan kembali mengingat bahwa porsi ketajaman dan kemiringan ukuran ban sangat berbeda dari biasaanya. Jika naik motor laki,itu jalanan favorit untuk corneringan. Belok belok ala moto gp adalah pekerjaan yang mengasyikan dan hiburan di jalan. Perjalanan malam itu sangat mencekam dada dan perut. Saya pun berpikir kayaknya ada yang salah deh,saya udah makan belum sih? Sambil gasspoll, sambil mengingat sepertinya tadi pas suruh makan di rumah,saya malah mbengkel motor. Dan tanpa disadari saya sudah memasuki kota purowkerto dan berhenti di tukang nasi goreng alun-alun Purwokerto. Saya kemudian melihat jam tangan dan cukup kaget sih,waktu baru menunjukan pukul 01.25. Astagfirullah,Kebumen-Purwokerto  sekitar 79 KM (kata maps) hanya ditempuh waktu 25 menit. Saya tertawa bahagia saat itu sambil makan nasi goreng dengan bapak penjual yang ramah.
                Saya bahagia malam itu,tapi ya bahagia kesepian hehe. Kadang saya menyesal,pengalaman yang indah dan asyik begini belum bisa dibagi dengan orang. Kampas rem belakang sangat terasa berkurangnya nih,saat berangkat dari rumah,injekan rem belakang belum terlalu dalam. Sampai Purwokerto kayaknya sudah mengurang jadi ¾ nih hhha. Kecepatan sama ukuran ban sangat berpengaruh pada daya cengkrem ban ke aspal.Serta kondisi aspal yang mulus dan tidak rata pun sangat berpengaruh,kalau tidak kamu akan ngerem indah dan terbang,keren sih hhhe.
Bersambung...

Komentar

Postingan Populer