MENEMUKAN yang NAMANYA KESEDERHANAAN ITU SEDERHANA
Perasaan
manusia yang selalu merasa tidak cukup itu sangat menganggu. Tapi disitulah
keseimbangan dunia terjadi. Dikala orang sudah memenuhi kebutuhan primer dan
sekunder,sudah saatnya membeli barang mewah. Entah untuk mempersoalkan strata
sosial atau fasilitas. Sungguh mulia bagi orang yang melihat dari sisi
fasilitas dan bisa berguna untuk orang banyak. Dan sungguh pendek bagi masalah
strata sosial. Pasti orang itu masih risih kalau mendengar perkataan orang
lain. Mengutip perkataan Gus Dur “Orang yang masih terganggu dengan celaan dan
pujian manusia, dia masih hamba yang amatiran” sekiranya begitulah. Kebahagiaan
menurut perspektif saya menjadi bahagia adalah jangan dengarkan omongan orang
lain.
Walaupun tidak mendengarkan omongan orang lain,anda tidak boleh semena
mena dan seperti dunia ini milik anda. Karena anda hidup pada lingkup sosial
dimana jika terjadi kesenjangan sosial itu adalah keadaan yang distabilkan.
Tetangga anda orang yang mampu,dan ada yang kurang mampu. Jika orang yang mampu
itu tak bisa bergaul dan sombong,mungkin saja terjadi pembunuhan di desa anda.
Gengsi
adalah trend yang mengental di zaman ini. Sepatu harus memakai brand yang
terkenal,pakaian pun demikian. Disitulah kapitalisasi melanda. Tapi saya males
mbahas kaptilasasi ini karena udah pernah dibahas oleh teman kuliah saya
hehehe. Hanya ingin menceritakan pengalaman saya yang baru sedikit tentang
menjadi orang yang dengan strata tinggi dan mencoba menjadi sederhana. Ya,saya
mengalaminya sendiri dan saya coba untuk merasakan. Seandainya masa depan
mengijinkan saya mengenyam pendidikan orang besar,kan tidak lupa diri.
Singkatnya
pagi ini saya mengantar adek ke sekolah menggunakan sepeda. Entah kesurupan
apa,yang pasti ini kesurupan pemikiran orang sederhana. Jarak antara rumah
dengan sekolahnya sekitar 5 km. Sejalur dengan sekolah bapak dan bapak pun
sekarang rutin menaiki sepeda kalau berngkat mengajar. Pada saat keluar rumah
dan masih sekitar lingkungan desa,saya mendapat respon yang menurut saya lain
dari biasanya. “wah mas,lagi sepedaan ceritanya ni”ucap tetangga saya. “tumben
sepedaan nih,biar sehat mas,bener hhe” ucap tetangga lagi. Saya hanya menjawab
“iya ini,olahraga pak/bu,biar perutnya ngga mblendong”.
Tawa dan sapa mereka sangat nyaman di mata dan hati. Selanjutnya untuk di jalan
raya,ego naik kendaraan itupun lain. Lebih jenak dan tenang. Tanpa harus
memikirkan itu orang mobilnya bagus ya,motornya keren ya ( kecuali tadi pas
lewat pom bensin ada rombongan touring lagi rest
,jadi pingin touring lagi hhha). Intinya ego saya untuk apapun menurun dan
cenderung darah lebih stabil.
Dan
mengambil sisi lain,jika naik mobil. Masyarakat tetap menghormati tapi ada
kesan yang berbeda. Ibaratnya saya menyapa dan sana senyum tapi karena
menghargai karena naik mobil. Perilaku kehidupan di Jakarta ya sekiranya
begitu. Dan awal awal saya kuliah di Jakarta,agak terbawa oleh alur kehidupan
kota itu. Sikap individual itu tumbuh dan sopan santun berkurang sekitar 35
persen. Tapi sekarang Alhamdulillah,sikap individual itu bisa dikurangi dengan
menjadi individual secukupnya. Kembali ke sisi sederhana itu sebenarnya untuk
menyeimbangkan keadaan agar tidak terjadi kesenjangan sosial yang berbahaya.
Pagi
ini saya hanya ingin menyatakan sederhana itu “naik sepeda ontel ,pake
kaos,celana pendek,pake blangkon dan jangan lupa senyum”. Setelah sampai rumah
jangan lupa sarapan, rokok ( saya pasti berhenti kalau sudah punya pacar yang
suruh berhenti ngrokok), ngopi serta sholat duha untuk membuka rezeki anda di
dunia dan membukakan hati kesederhanaan kita semua.


Komentar
Posting Komentar