“Mencintai Itu Anugerah, Meski Tak Berbalas. Lewat Rasa Itu Kau Bahkan Bisa Membangun Istana Megahmu Sendiri dari Keping-Keping Puisi dan Prosa”.
Perihal
seseorang datang dan pergi itu menjadi trend di kalangan 2000 an. Atau mungkin
sudah lama terjadi, dapat ditarik sebuah kesimpulan. Apakah itu ? Tidak ada yag
bisa dipercaya. Dalam kuliah Wacana hari ini yang sedang membahas tentang topik,
saya menemukan tidak tahu. Bingung ya? Biarkan anda sama dengan saya
bingungnya. Tidak efektif ya pengunaan kalimatnya? Biarkan saja,huruf-huruf ini
tidak akan menghina penulisnya kok. Atau di alam lain,huruf-huruf ini hidup
dalam kehidupan yang dapat bersosial. Entahlah.
Sepi sepi dengan segelintir kue lapis legit yang
bertingkat. Dan satu kue dengan beberapa lapisan,dengan warna yang berbeda
tanpa mempersoalkan ras. Dan tidak saling ejek antar warna karena mereka
memiliki satu rasa. Begitu manis kehidupan mereka yang terbungkus dalam satu
kemasan. Segelas kopi datang menghampiri kebersamaan mereka. Hitam legam tanpa
hiasan apapun di tubuhmu. Pahitmu telah dimaklumi semua orang karena menggugah.
Kali ini sebatang rokok dijauhkan dari mereka. Bukannya tidak mau
berteman,hanya mengurangi pertemanan sedikit saja. Sesuatu yang berlebih memang
tidak baik.
“Mencintai itu anugerah,meski tak
berbalas. Lewat rasa itu kau bahkan bisa
membangun istana megahmu sendiri
dari keping-keping puisi dan prosa”.-Helvy Tiana Rosa
Hha,dan saya menemukan
penguatan untuk hal satu ini. Kali ini sesuatu yang berlebih lebih baik untuk
esok.
“Teman terbaikmu itu ada dua.
Allah.
Dan dia yang senantiasa
mengingatkanmu kepada Allah.”


Komentar
Posting Komentar